ahh...ini email pertama sejak sejak gempa 27 mei kemarin...
27 Mei 2006, jam 05.30 seperti biasa kalau pagi Dika dan Ihan ikut kumpul dikamar, becanda-becanda dll. Istri saya masih memberi ASI bayi kami yg masih berumur 27 hari, disebelahnya ada Dika yg lagi seneng liatin adik barunya. Gak lama kemudian Ihan minta pipis, baru aja saya lepas celananya Ihan keburu pipis ...basah semua lantai kamar karena airnya mancur kemana-mana..istri saya senyam-senyum aja liat tingkah Ihan, gak lama tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh, saya pikir itu bunyi truk atau bus besar yg lewat, karena rumah saya memang berada dipinggir jalan, tapi...kok suaranya gak berhenti...langsung perasaan saya gak enak karena teringat gempa 2002 silam saat khotbah jumat berlangsung...suaranya gemuruhnya sama persis...tapi saat saya sadar bahwa suara itu adalah tanda gempa, semuanya sudah terlambat, saya langsung dekap Ihan sambil terombang-ambing gempa yang kuat, arah gempa ke atas-bawah membuat saya cuma bisa diam saja, karena berjalanpun pasti jatuh, saya terus melihat ke arah tembok, jaga-jaga kalau tembok runtuh saya siap-siap ambil posisi menyelamatkan anak2 dari runtuhan, "Ya Allah..Ya..Allah..." istri saya ketakutan sambil mendekap si kecil dan Dika, saya lihat ke jendela kamar...brussshhh....tembok belakang roboh...saya mencoba buka pintu kamar..."Brakkk....Brakk..." Buffet ruang tengah roboh...buku-buku saya berhamburan ...lemari peralatan saya sebelah komputer dika juga roboh..banyak pecahan kaca dari lemari peralatan ini...setelah itu "boomm.."tembok samping juga roboh...setelah tembok samping roboh...getaran gempa menurun, saya langsung tarik istri sambil menggendong Ihan saya lari keluar, istri saya gendong si bayi, padahal perut istri saya masih sakit karena sesar pada waktu melahirkan si kecil 27 hari lalu...sampai di luar saya lihat pembantu masih duduk di sebelah mobil yg diparkir, kelihatan wajahnya yang ketakutan dan kebingungan, sambil meringis kesakitan, tangan kanannya ada darah....kabel listrik terlihat masih bergoyang-goyang, tidak lama kemudian sudah terlihat banyak orang di luar rumah, ada yang cuma sarungan...ada yg rambutnya masih acak-acakan...semuanya keluar rumah...
MasyaAllah..gempanya terasa lama sekali...
Gak lama...terdengar suara dari belakang perumahan..."Anaku..anaku..."...saya langsung minta De'(panggilan saya ke pembantu) untuk melihat kearah suara, karena waktu itu saya masih menenangkan istri dan anak2...De' langsung berteriak..."wah...rumahnya ambruk semua!"...saya langsung oper Ihan ke De' dan langsung lari ke rumah tsb, orang-orang ikut lari ke rumah Pak Agus, "Astagfirullahaladzim..." rumahnya total ambruk...saya langsung masuk ke arah pintu yg terhalangi kayu atap...saya angkat "wah berat sekali"..yang lain ikut membantu, setelah masuk, saya cari2 tidak ada siapa-pun...."Alhamdulillah..." ternyata orangnya sudah diluar semua...dan tidak ada yang terluka, karena waktu kejadian, istrinya sedang mencuci di kamar mandi, yang berada diluar rumah, dan Pak Agus dan anak2nya seperti biasa jalan2 pagi dengan 2 anaknya, jadi istrinya mengira anak-anak dan suaminya masih didalam, ahh..hati saya agak tenang sedikit...saya langsung kembali ke istri dan anak-anak yang masih berdiri didepan rumah. Saya menanyakan kabar tetangga yang alhamdulillah di sekitar tempat kami tidak ada satupun yang terluka. Tidak lama, Pak Wardi yang rumahnya seberang jalan dari rumah saya datang, dia baru saja dari desa Prian, yang sebenarnya masih satu RT hanya memang lokasi kita sangat jauh, jadi seharusnya memang jadi RT yg berbeda dan rencananya memang demikian. Pak wardi dengan setengah berteriak "Wah..desa Prian banyak yang roboh...wah kalau jantungan gak usah kesana deh, banyak sekali yang luka...". "Masya Allah..." saya langsung minta istri untuk tetap di depan rumah, dan saya berpesan untuk tidak panik.."Bu disini dulu ya...jangan kemana-mana...ditempat kita berdiri ini insyaAllah aman...kalau ada yang bilang ada tsunami gak usah didengar...lokasi kita ini 30km lebih dari laut..." saya langsung masuk ke rumah dan mencari kunci mobil di bawah buffet yg roboh, lama sekali saya cari-cari akhirnya ketemu, hanya dompet saya yg berisi SIM dll yang belum ketemu...entah kemana..."ah peduli amat..." saya langsung ke mobil, setelah mencoba menyalakan mesin yg dingin beberapa kali..mobil kijang th 83 ini akhirnya bisa nyala juga, saya langsung kebut ke desa Prian. Dilapangan bola desa itu sudah banyak orang terbaring ditemani keluarganya, saya langsung parkir...dan langsung bongkar kursi tengah, beberapa orang membantu saya membongkar kursi tengah supaya orang-orang bisa dibaringkan di tengah, agak sulit karena mobil ini sudah agak berkarat dibagian bawah, akhirnya saya minta langsung bongkar paksa saja...gak usah pake kunci2an lagi....saya sudah gak peduli...yang penting saya bisa cepat bawa orang-orang yg terluka ke RS.
3 orang yang semuanya ibu-ibu berbaring di belakang mobil saya dengan luka pada wajah dan patah tulang, darah diwajahnya belum dibersihkan, 2 orang kakek dikursi depan dengan luka di wajah dan tangannya, ada 2 pemuda yg membantu saya menjaga di pintu belakang, langsung saya berangkat ke RS terdekat, arah pertama yg saya tuju adalah RSU Wirasaban, tapi diringroad arah kota gede polisi langsung menstop dan mengalihkan supaya belok ke kanan, kota gede tidak bisa dimasuki mobil, karena jalan banyak tertutup puing2, "Pak Wirosaban gimana pak..?" kata saya "Penuh..." jawab si polisi....saya langsung ke Hidayatullah...beberapa puluh meter dari RSI hidayatullah jalan sudah padat..."Masya Allah ...penuh juga..." saya langsung tanya pak Polisi lagi..."Pak yang kosong dimana pak..", "Langung ke Sardjito saja pak..." kata pak Polisi....saya langsung banting stir...ke arah sardjito...diperjalanan saya sadar kalo bensin sudah tipis..."Ah...kebiasaan kalo pake bensin nge-pas terus....kalo begini baru deh repot..." gumam saya...dijalan saya mabil liat kiri kanan kalo-kalo ada yg jual bensin eceran, soalnya POM bensin banyak yg tutup, karena listrik mati.
Saya menuju RS Sardjito lewat lempuyangan, diperempatan galleria, orang-orang berteriak..."langsung ke DKT saja...langsung ke DKT saja...Bethesda penuh..." ...saya cuma bisa ikut arus....ikutin mobil di depan saya menuju DKT yang terletak dibelakang RS Bethesda, sampai di DKT memang masih terlihat tidak terlalu ramai, tapi itu tidak bertahan lama, mobil-mobil yg bawa korban mulai berdatangan...pintu masuk RS makin sumpek, padahal korban dari mobil saya belum saya turunkan, karena menunggu mobil didepan menurunkan korban, karena terlalu lama, saya dan 2 pemuda tadi inisiatif supaya langsung menurunkan korban, tanpa harus menunggu mobil didepan. Saya setuju dan langsung mengangkat satu persatu, korban tidak bisa diangkat dengan tandu/kereta dorong, karena banyak korban yg duduk atau berbaring dipintu masuk, Waktu diangkat korban meringis kesakitan sambil menyebut nama Allah.., saya gak tega melihatnya. Di pintu masuk kita tertahan, karena jalan yg cuma 3 meter dipenuhi korban dikanan kiri, ditambah orang-orang yg lalu lalang mengantar korban, wah...tangan dan punggung saya sampai sakit karena harus terus mengangkat korban..."ahh..begini nih kalau jarang olang raga..perut yg besar bukan tangan yg besar..." gumam saya dalam hati. setelah berusaha menembus lalu lalang orang dan korban dikiri kanan akhirnya kita bisa masuk, tapi ruangan sudah penuh, jadi kita baringkan di jalan penghubung antar ruangan.
Setelah selesai, saya langsung kembali ke KotaGede, perjalanan kembali masih melewati Jembatan lempuyangan, kali ini jembatan dipenuhi orang-orang, saya pikir orang-orang ini sedang melihat pemandangan jogja dari atas jembatan, ternyata terdengar oleh saya dari orang dikanan dan kiri kalau ada tsunami, saya terus membunyikan klakson agar orang-orang di depan saya minggir..."Woooiii...minggir ...minggir...gak ada tsunami...gak ada tsunami...disini jauhnya lebih dari 35 KM...gak ada tsunami....hayo..pada turun...jangan menghalangi jalan..." teriak saya... dikanan kiri banyak anak-anak sekolah berseragam berdoa menengadahkan tangan sambil menangis..."ah...orang-orang ini..." setelah sampai di puncak jembatan...saya teriak lagi...seperti tadi...."Woii...mana airnya...mana airnya...coba lihat dari sini...tidak ada tuh...bohong...hayo cepat turun...turun..." saya teriak-teriak terus, karena jalan lempuyangan termasuk jalan penting, dan banyak korban yg akan pakai jalan ini.
-Isu Tsunami-
Sambil menyetir saya sambil lihat kanan kiri, berharap ada tukang bensin yg jualan. Tapi sampai ke kota gede gak ada satupun yg saya dapati. "Wah mobil ini gak bisa jalan lagi...dari pada nanti malah nyusahin orang, mendingan saya kandangin lagi lagi aja...." saya bilang pada teman disebelah saya, Sampai depan rumah saya heran, karena istri dan anak-anak tidak ada ditempat yg saya pesankan pada istri, saya berhenti sebentar dan mengecek ke rumah, mobil masih diseberang jalan, karena saya masih berharap bisa dapet bensin supaya bisa bantu-bantu desa sebelah. Semua pintu rumah masih terbuka seperti saya tinggalkan tadi, tapi istri dan anak-anak gak saya temui, "wah kemana yah anak-anak..." saya kebingunan cari anak-anak & istri, sebentar kemudian, Pak Yanto tetangga sebelah utara yg juga anggota polisi berteriak pada saya "Pak...istrinya tadi ikut ngungsi ke utara...anak-anaknya juga..." kata pak Yanto. "Ya pak, terima kasih" balas saya, saya langsung putar mobil mencari istri ke utara, saya agak deg-degan soalnya bensin mobil sudah dibawah garis empty, takutnya mogok dijalan, malah nanti saya yg repot ngurusi mobil. Sampai ringroad, istri dan anak-anak gak ketemu juga, "Kemana yah mereka....mana sinyal HP gak jelas lagi...". Saya kembali ke rumah dan cuma bisa menunggu, karena rumah juga gak ada kuncinya, orang semua sibuk sama urusannya masing2...saya cuma duduk-duduk didepan rumah, sambil lihat mobil-mobil korban lalu lalang, sirene gak berhenti-henti meraung-raung, gak terasa sejam saya sudah menunggu...tiba-tiba gempa lagi...."DERRR...." saya langsung lari pindah tempat, cari tempat yg lebih aman...tiang listrik masih terlihat goyang, gempanya lumayan besar, tapi hanya sebentar.
Gak lama kemudian, ada sms masuk dari teman saya Shofa, seharusnya pagi tadi Shofa datang kerumah, dia seharusnya pagi tadi bantuin ngurusi pembelian motor baru, soalnya malam tadi saya baru saja melepas motor shogun 2000 saya. "Mas, anak-anak dan ibu ada dirumah saya...Mas ada dimana?" isi sms-nya shofa, ternyata anak saya sudah ada dikota, didaerah jalan magelang, dari tempat saya sekitar 10km, saya langsung telp supaya anak-anak dibawa kembali ke rumah. dalam hati.."Kok anak-anak bisa sampai kesana, gimana tadinya sih...", selang sejam ada sms dari mertua "Mas Iip, Nana sama bayinya sedang mengungsi, sekarang ada di Piyungan, di Desa Srimartani, dirumah bapak..." saya lupa bapak siapa... "Ya Allah...kenapa bisa sampai sana..." gumam saya lagi. beberapa menit kemudian Shofa, Dika, Ihan dan De' sudah sampai dirumah.
Wah..senang hati saya lihat anak-anak sehat walafiat, De' cerita pada saya kalau mereka pergi meninggalkan rumah karena ada isu tsunami, jalanan didepan rumah dipenuhi banyak kendaraan yang berjejalan menghindari tsunami, itulah yang membuat istri dan semua orang disekitarnya panik, sehingga anak-anak dan de' dibawa oleh Shofa, kawan saya yang kebetulan berkunjung, sedang istri saya ikut motor yang lain, menuju ke Piyungan yang jaraknya dari rumah juga sekitar 10km.
waktu kira-kira menunjukan jam 10, Saya bawa kasur dari dalam rumah, saya pasang di dalam mobil setelah darah bekas korban yg saya bawa saya bersihkan, anak-anak saya suruh tidur didalam mobil, anak-anak kelihatannya lelah, Dika masih agak ketakutan, sedangkan Ihan masih biasa-biasa saja, bahkan waktu kasur dimasukan ke Mobil...senangnya bukan main...lompat-lompat dll...hehehe..ihan..ihan... beberapa saat kemudian saya dapat sms dari istri, smsnya sepertinya delay, jadi yg dikirim sekitar 1-2 jam yg lalu. Istri saya memberitahukan lokasi ngungsinya, tapi saya belum bisa pergi karena bensin mobil sudah habis. Saya coba de' untuk beli bensin di warung dekat rumah yang biasa menjual bensin eceran, ternyata bensin masih ada dan saya langsung beli 10 Liter. Saya cuma beli 10 Liter karena saya yakin orang lain juga butuh bensin waktu itu, apalagi listrik mati hampir diseluruh Jogja. Berbekal 10 Liter bensin, saya langsung ajak pekerja perumahan yang lebih tahu daerah piyungan untuk menjadi penunjuk jalan. Selama perjalanan banyak sekali saya lihat rumah roboh, pasar piyungan juga hampir seluruhnya ambruk. Setelah masuk ke desa Srimartani juga sama, banyak rumah yang roboh, kebanyakan rumah yang roboh adalah rumah-rumah desa yang tidak bertulang. Waktu mencari istri saya, de' dan pekerja perumahan harus naik ke atas bukit 2 kali, karena mobil tidak bisa masuk ke tempat yg dituju, saya harus menunggui anak-anak yang sedang tertidur setiap kali menuju lokasi rumah yang dimaksud. kedua-duanya salah alamat, alamat orang yang dituju bukan alamat orang yg membonceng istri saya, kita semua sudah kelelahan, dan waktu sudah sekitar pukul 14.00, saya masih coba bertanya-tanya terus, sampai akhirnya ada lagi orang dengan nama yang sama, di tempat yg lain, saya coba lagi, kali ini mobil bisa masuk sampai atas bukit, tapi ke rumah yg dituju tetap tidak bisa, jadi tetap harus berjalan sekitar 200m, Alhamdulillah..alamat yg terakhir ini adalah alamat yg tepat, dirumah itu memang ada ibu-ibu dengan bayi yg masih berumur 1 bulan, tapi istri saya sudah diantar pulang kembali ke rumah, sms dari istri supaya saya tidak menjemput saya terima malah setelah saya sampai ditempat istri saya. akhirnya kita semua kembali kerumah dengan fisik yg sudah lelah, apalagi sejak pagi tadi memang belum ada satupun yang sudah makan.
Sesampainya dirumah, saya lihat istri saya sambil menggendong si kecil di temani pemuda, istri saya cerita tentang keluarga yang menolongnya, "Pak alhamdulillah tadi keluarganya Mas ini baik banget dan shalih..." istri saya meneruskan ceritanya, setelah itu istri saya minta uang untuk mengganti pulsa milik pemuda tadi yang tidak lain adalah anak dari keluarga yang diceritakan istri saya, baterai HP istri saya drop, jadi sms yg dikirim menggunakan HP milik pemuda tadi, setelah kami semua mengucapkan terima kasih, pemuda tadi pamit pulang (saya lupa namanya...kapan-kapan saya akan mampir lagi ke tempatnya)
ahh...benar-benar biadab orang-orang yang menggulirkan isu tsunami, disaat orang-orang banyak yang menderita karena gempa, orang-orang ini malah mencoba mencari keuntungan dari mereka, saya dengar kabar bahwa isu ini memang sengaja supaya mereka bisa menjarah dengan mudah...
Setelah gempa, kita tidak berani tidur didalam rumah, mobil dan tutupnya saya sulap jadi tempat tidur dan tenda, gempa masih terus terasa, bahkan sampai kemarin sore sejak email ini dibuat tgl 26 Juni 30 hari sesudahnya...selama 5 hari tempat kita gelap gulita, PLN masih terus memperbaiki jaringan dan baru menyalakan listrik untuk daerah yang benar-benar aman, untuk bersih-bersih kita masih pakai sisa air yang masih ada di penampungan air, hari ke 2 air habis, saya terpaksa beli genset yg kecil, sekedar untuk mengisi air saja. Setiap malam kita harus tidur di mobil, semua tetangga mengungsi. Pernah suatu malam, karena terlalu hening, istri saya tidak betah dan mengajak untuk berkeliling jogja sekalian cari makanan, pulangnya istri mengajak untuk tidur ditempat yang terang, supaya aman pikirnya. Saya berhenti di depan warung pecel lele yg lumayan terang, masih dekat rumah yg lama dikotagede, hanya saja waktu itu mobil saya berhenti tanpa saya membuka atau menutup pintu apalagi minta ijin, saya lupa kalau semua orang juga waspada karena kondisi tanpa listrik, saya berhenti langsung tidur saja....sekitar 1 jam kemudian mobil saya di gedor, saya ditanya macam2, saya bilang ..."saya cuma mau tidur saja, ditempat saya gelap sekali...kasihan anak-anak ketakutan", hehehe...saya disuruh pindah agak jauh, disarankan supaya ke depan koramil depan balai desa, saya ikuti anjuran orang-orang itu, sampai didepan balai desa, sama seperti tadi, baru 1 jam tidur, sudah digedor lagi...mobil saya memang dicurigai terus, apalagi dari tempat sebelumnya ke tempat yg berikutnya...kesannya seperti sedang mengintai, kali ini yg menggedor teman main saya si Lucky, jadi waktu saya buka kaca...."oalahh..kowe toh...ngapain disini..." katanya, "aku numpang tidur nih...kasian anak-anak ketakutan, tempatku gelap banget disana " jawab saya, "ohh...ya udah masukin aja ke balai desa itu yg lain juga disana kok..." kata lucky, "ah udah luck, biarin disini aja, la wong masuk kedalem juga udah pada tidur semua, jadi cuma pindah mobil aja...udah disini aja gpp kok, makasih ...." kata saya. Tidur pun berlanjut, sampai sekitar jam 3 dini hari, saya digedor lagi...kali ini teman saya Yoyok yg ngerjain..."Hei...bangun2...ada keperluan apa disini...mana KTPnya" katanya sambil mukul-mukul kaca, saya naik pitam, saya langsung keluar, sampai luar saya lihat si Yoyok...."ahhh...ente dasar gundul..." kata saya sambil ucek-ucek rambut dan mata..."kenapa gak di gedongan aja ip, tadi disuruh tidur bareng disana gak mau...sekarang malah disini..." kata Yoyok, "ah..ini diluar rencana bos...wes mumet...." kata saya....jam 4.30 saya harus kembali kerumah, karena Ibu saya dari Serang datang naik bis, takutnya waktu ibu sampai rumah gak ada orang...wah kasihan nanti....
4 hari setelah gempa, saya sudah harus berangkat lagi ke Medan dan Aceh, istri dan anak-anak saya ungsikan ke Kertosono Nganjuk, Ibu saya kembali serang, saya cari tiket pesawat untuk ibu supaya bareng saya tapi gak dapet dan supaya bisa tetep pulang hari ini, Ibu akhirnya naik bis. Rumah saya biarkan sampai saya datang dari Aceh tgl 22 Juni Lalu...
Saya hanya sebentar bertemu teman-teman BMT KAFFAH, yang sedang mengurusi posko bantuan di bantul, pingin banget bergabung, tapi gimana lagi, saya harus jadi trainer di Asrama Haji Medan tgl 1 Juni dilanjutkan ke Aceh sampai tgl 21.
Waktu transit di Serang sebelum ke Medan, sempat ingin berkunjung ke Rumah dunia dan SMAN 1 Serang, saya pinging menularkan sedikit tentang Software OpenSource, saya sudah siapkan kopian CD linux Kanotix dan CD tools UBCD yang siap saya serahkan, tapi mungkin karena masih bingung, karena ternyata waktu yg saya pikir masih tersisa 5 Jam lagi, eh...ternyata cuma 3 jam, jadi 2 Jam untuk keliling ternyata tidak ada...walhasil saya harus begegas beres-beres dan segera nunggu bus ke JKT untuk perjalanan berikutnya....
Pak kisah ini baru aja saya buka, dan ga sempat baca lama-lama di warnet. Nanti saya baca di rumah, ini sudah kucopy ke flash disk. Yang penting semua keluarga selamat, ya kita bersyukurlah kepada yang maha kuasa, karena perlindungannya. Amin.